02 June 2010

Keperkasaan Elang dalam Seekor Burung Pipit


Aku menatap kebawah dan melihat bayangan seekor burung pipit yang sedih dan lemah, selalu mengepakkan sayap-sayap kecilnya menerpa angin, dan saat butiran-butiran pasir beterbangan menghunjam tubuhnya ia berjuang dengan segenap kemampuannya untuk tetap terbang, membungkukan tubuhnya yang telah letih.


Aku merasakan diriku bagaikan burung pipit ltu, terbelenggu dan tak berdaya di bumi ini dan kesedihan menorehkan luka yang dalam pada asa di dalam diriku yang melemah. Aku telah melihat sebuah gelas yang kosong setengahnya yang membuatku putus asa. Sebenarnya, bagian yang setengahnya yang dituangkan adalah nektar yang telah lama aku inginkan dan butuhkan. Aku menangis dalam hati.

Aku berhenti dan mencium sekuntum mawar tapi pastinya mawar yang salah. Aku punya jiwa dan spirit tapi telah lama terlupakan dan jiwa serta spirit itu bahkan tidak saling menyapa. Di saat aku mengerahkan sisa-sisa daya dan keberanianku kedalam sayapku yang harus segera aku kepakkan, aku benar-benar kehilangan arah tujuan yang telah aku tetapkan. Aku benar-benar tersesat dimana aku telah di takdirkan untuk berada, setiap bidang tanah yang kutandai ada di sini dan aku semakin tersesat di dalam hidup ini.

Dalam gelapnya pengetahuanku akhirnya kutemui harapanku dalam kebenaran sejati yang sama sekali tidak kumiliki. Aku tak akan pernah mencapai tempat yang telah di takdirkan untukku melalui jalan ini tak peduli upaya, darah, air mata, keelokan jiwaku, saat sayap-sayapku terluka oleh makhluk kesedihan yang kuciptakan sendiri.

Dan dalam pengharapan yang hampa ini, yang terbentuk dari penghinaan namun menyadarkan, aku menemukan angin. Aku berhenti mengepakan sayapku, membiarkanya dan mulai melayang melambung ke angkasa jiwaku yang sejuk dan lembut. Kehidupanku yang sebenarnya tak perlu dicemaskan. Sesuatu menjadi baru dan aku melayang, kemudian membumbung tinggi, tanpa perlu mengepakkan sayap menuju sorga.

Sayap-sayapku memeluk langit dan akhirnya jiwaku mengenal spiritku. Nektar itu bukan berada di dalam gelas karena ia telah dituangkan di dalam jiwa dan mawar yang harum mewangi itu ada dimana-mana. Aku tak perlu berjuang dan melukai tubuhku karena sekarang aku hidup.

Pasir dan angin turut bersamaku disaat aku terbang, saudara-saudaraku ada di sisiku, mengusap-usap dan memelukku. Aku mengamati isi seluruh dunia menghirup dan menghembuskan keindahan murni. Berat tubuhku menguap bersama nafas kelegaan yang ku hembuskan dan mengisi awan gumawan yang membelai rambutku.

Aku melihat kebawah. Burung pipit yang sedih itu tidak ada lagi. Aku hanya melihat rentang lebar sayap seekor elang berteman dengan angin dari semua angin dimana elang selalu menjadi bagiannya.

Pikiran-pikiranku…...., melindunginya, memberdayakanya, melanggengkan, namun mereka hanya beriringan, berloncatan, menyerbu, tamu-tamu sok penting yang tak diundang. Jadi aku terpekur dengan tantangan, perjalananku, pencarian kedalam diri. Ini adalah pemikiranku tentang pikiran yang menawarkan janji.

Itu semata dapat memunculkan kepasrahan untuk hidup dan untuk menjadi. Dan dalam pemikiran rantai-rantai mentalku itu dapat di ubah menjadi debu listrik darimana mereka berasal. Datanglah pikiranku yang bergerak cepat, datanglah pikiran-pikiranku yang menyerbu dan menghantui, karena aku kini sudah bebas.

..........................


No comments:

>>>

-



-