09 June 2010

Kisah Kehidupan Abadi Resi Bushunda


Resi Vasistha bercerita, bahwa Resi Bhusunda yang hidup abadi, hidup di pohon kalpa di pegunungan Semeru. Raganya berbentuk burung gagak. Belum ada seorangpun di dunia ini yang mampu hidup selama itu dan juga tidak akan mungkin hal ini terjadi di masa-masa mendatang. Beliau ini diberkahi oleh kebijaksanaan yang agung dan mulia, juga diberkahi dengan shanti, beliau adalah resi segala zaman.



Para resi-muni yang hadir di Indraloka merasa takjub mendengarkan kisah ini. Setelah meninggalkan Indraloka aku menuju ke puncak Semeru, dan di puncak pegunungan ini aku menyaksikan keindahan yang amat mempesona. Kulihat sebuah pohon kalpa penuh dengan bunga warna-warni dan intan manikam. Para gandharwas (biduan-biduan swargaloka) dan para peri sedang menari-ria di bawah pohon tersebut.

Sewaktu aku mendekati pohon ini kulihat sebuah cabang pohon yang dihinggapi oleh seekor burung gagak yang cantik dengan kepalanya menengadah ke atas. Burung ini nampak penuh kharisma dan berusia sangat lanjut (chiranjiwi).

Beliau terkesan telah mengendalikan prananya dengan baik, terpusat ke dalam dirinya dan penuh dengan keseimbangan. Kata-katanya lembut dan penuh dengan kebijaksanaan. Beliau tampak sangat lembut, sederhana, menawan dan cantik mempesona. Beliau memiliki kemampuan secara sempurna dalam semua aspek. Beliau mengenaliku, pada saat aku mendekatinya, beliau langsung mengucapkan salam selamat datang secara hangat dan tulus.

Melalui kesaktiannya beliau menciptakan sepasang tangan dan menghaturkan upacara arti (baki yang dipenuhi dengan pelita, bunga-bunga dan dupa) bagiku. Kemudian kedua tangannya diubah menjadi bantalan empuk berupa dedaunan dan aku dipersilahkan duduk di bantalan ini.

Beliau kemudian berkata : “Dikau telah memberkahiku dengan mengunjungiku, selama ratusan tahun aku menunggu kedatanganmu. Mohon sudi dijelaskan maksud kunjunganmu wahai resi. Sebenarnya aku hadir di balairung Dewendra (Indra) sewaktu diskusi mengenai perihal chiranjiwi sedang berlangsung, namun aku berada di ruang bawah, sehingga tidak terlihat oleh para hadirin. Mohon sudi mengutarakan sabda-sabdamu yang suci”. “Wahai resi, bersabdalah kepadaku”, demikian ujar Bhusunda.

Kemudian akupun berkata : “Wahai raja dari kaum burung, sewaktu di singgasana Dewendra kudengar akan status abadimu, aku merasa ingin sekali mengunjungimu. Dikau adalah pengejawantahan chitta yang lembut dan ananda. Mohon dijelaskan bilakah dikau dilahirkan dan bagaimana upaya yang telah dikau tempuh sehingga mampu mencapai gyana. Berapakah usiamu, apa saja yang telah dikau saksikan di dalam kehidupan ini, dan mengapa memilih tempat ini sebagai kediamanmu?”

Bhusunda menjawab : “Wahai munishwar (resi yang agung), dikau sebenarnya telah memahami semuanya, namun akan kukisahkan karena dikau tanyakan. Aku lahir beberapa yugas yang lalu sesuai dengan instruksi ayahku yang juga berbentuk burung gagak dan bernama Chanda. Ibuku seekor burung angsa yang dipelihara oleh Dewi Brahmi. Melalui karunia Dewi Brahmi aku telah diberkahi dengan Atmagyan”.

Aku kemudian berkata lagi : “Prabu, pada saat-saat pralaya (kiamat) di mana sang surya dan chandrapun menghentikan aktivitas mereka, namun dikau terkesan tidak terpengaruh sama sekali”.

Bhusunda menjawab : “Wahai Munishwar, di dunia ini setiap jiwa memiliki dua cara kehidupan yaitu, ketergantungan dan kemerdekaan (kemandirian). Mereka-mereka yang memiliki harta-benda, istana, tentara dan lain sebagainya adalah golongan yang pertama dan yang tidak memiliki apapun juga disebut mandiri. Namun aku bebas dari kedua unsur tersebut, dan menganggap kedua hal tersebut sebagai penghalang. Aku selalu bahagia dan terpusat ke dalam diriku, berdasarkan Atma-santosh (kesentosaan di dalam Atman), aku merasa puas, bahagia, dan tidak pernah mengalami penderitaan. Akupun tidak menghasratkan kematian maupun kehidupan, kedua unsur tersebut adalah tahap-tahap kehidupan raga dan bukan kehidupan Atman. Aku tidak mendambakan moksha maupun keterikatan duniawi, karena kedua unsur ini adalah status sang jiwa. Di dalam Atman kedua hal ini tidak hadir. Karena senantiasa hadir di dalam Atman maka aku tidak merasakan penderitaan dan kebahagiaan. Aku senantiasa menjalani berbagai penderitaan dan kebahagiaan secara alami, dan pada saat ini aku telah lepas dari pengembaraan pikiranku. Aku telah stabil dengan tegar di dalam kebahagiaan yang mulia dan agung”.
“Wahai Munishwar, (walaupun) aku duduk di atas pohon ini, kulihat aliran prana dan apana. Kufahami juga proses pranayama. Bagiku malam dan pagi bersifat sama. Aku memahami Sat dan asat secara sangat baik, jadi tidak ada yang kudambakan lagi dari semesta ini. Hasrat dan nafsu adalah sumber penderitaan di dunia ini. Aku berinteraksi dengan dunia ini tanpa hasrat, itulah sebabnya aku telah mencapai kebahagiaan Ilahi”.


“Wahai Munishwar, dikau menanyakan mengapa aku tidak terusik oleh pralaya. Alasannya adalah pohon kalpa ini tetap abadi dan tidak terusik oleh pralaya tersebut. Karena aku hidup di pohon ini, maka secara alami akupun tidak terusik oleh pralaya. Sewaktu Hiranyaksha dan para asurasnya mencuri bumi dan membawanya ke alam lain (patala), pohon kalpa ini tetap tegar dan tak tersentuh. Pada saat peperangan antara para dewa dan asura yang amat menggoncangkan bumi ini, pohon kalpaku tetap eksis seperti biasa. Di bawah perlindungannya aku tetap tegar dan hadir di dalam-Nya. Sewaktu Hyang Wishnu menggunakan gunung Semeru ini untuk mengaduk samudra (kisah Mandaragiri), akupun tetap hadir tidak terusik di bawah lindungan pohon kalpa”.


Aku bertanya lagi, “Prabu, bagaimana dikau mampu bertahan dari hantaman awan, angin dan sengatan mentari?

Beliau menjawab,”Pada saat pralaya tersebut aku meninggalkan persemayamanku ini, dan karena jauh dari berbagai gangguan aku melebur ke dalam akash (kekosongan). Ibarat sang pikiran yang terlebur, sewaktu berbagai wasana hilang, maka akupun menarik semua bagian-bagianku. Sewaktu mentari membara aku menyerap ke air. Sewaktu bayu bertiup secara dashyat aku tegar dan kokoh ibarat batu. Sewaktu semua unsur habis musnah secara total, aku meninggalkan semua yang maha lembut, dan hadir di sana secara shanti ibarat tidur lelap (sushupti).

Sewaktu Hyang Brahma bangkit lagi dan semesta diciptakan lagi, aku kembali ke pohon kalpa ini, kembali ke sarangku di puncak semeru ini. Aku kemudian bertanya : mengapa beliau sanggup hidup secara abadi selama itu, sedangkan para kaum suci lainnya gagal. Beliau menjawab bahwasanya setiap insan dan makhluk memiliki kodratnya masing-masing, kodratku adalah hidup di Semeru dan bersarang di pohon kalpa ini.

Kemudian aku bertanya lagi, “Wahai raja para burung, dikau pasti telah menyaksikan berbagai hal yang menakjubkan selama hidupmu ini. Mohon beritahukan beberapa hal yang menakjubkan tersebut kepada kami”.

Resi Bhusunda menjawab, “Wahai Munishwar, aku telah menyaksikan berbagai keajaiban, namun akan kukisahkan beberapa saja kepadamu. Aku ingat, bahwa pada asal mulanya tidak ada sesuatu apapun juga di bumi ini, selain tumbuh-tumbuhan. Pada saat yang lain hanya terdapat debu. Pada saat yang lainnya tidak diciptakan surya dan chandra. Demikianlah berbagai ciptaan-ciptaan yang menakjubkan ini telah kusaksikan dari masa ke masa. Pada suatu saat Hyang Wishnu menumpas Hiranyaksha. Di saat lain aku menyaksikan sebuah peristiwa yang menakjubkan yaitu pengadukan Mandara-giri. Aku ingat delapan kali kelahiranmu. Pada suatu saat dikau lahir di luar akash, kemudian di luar air dan api. Aku ingat kedua belas reinkarnasi Hyang Wishnu termasuk Awatara Kurma. Aku ingat tiga reinkarnasi dari asura Hiranyaksha, reinkarnasi dari Sri Parasurama, dsb. Aku menyaksikan resi Walmiki menulis Ramayana dalam 12 kali kesempatan. Aku juga menyaksikan Resi Wyasa menulis Mahabrata sekali lagi. Aku ingat semua ini. Aku ingat sebelas reinkarnasi dari Sri Ramachandra dan 16 kali reinkarnasi dari Sri Krishna. Aku ingat semua hal-hal yang bersifat ilusif ini, karena sebenarnya semua ini tidak pernah diciptakan. Sewaktu kumeneliti melalui Atman-wichar, maka kusadari seluruh manifestasi ini adalah kesadaran murni. Semua berasal dan berakhir dari dan ke Sang Atman ibarat gelembung-gelembung air yang berasal dan hilang dan dari ke samudra luas. Ragaku ini tegar dari masa ke masa, itulah sebabnya aku selalu hadir dengan bentuk ini. Seluruh semesta ini adalah hasil dari pemahaman pikiran semata, begitu pemahamannya begitu juga hasilnya. Demikianlah aku mendapatkan dan bahagia dengan tahap keabadian ini. Pada hakikatnya semesta ini tidak nyata dan tidak sebaliknya, namun hanya ilusi belaka dengan berbagai warna dan bentuk yang ilusif sifatnya”.

Aku kemudian bertanya,”Prabu, mengapa tubuhmu belum diambil oleh kematian sejauh ini?”

Beliau menjawab, “Wahai Munishwar, dikau sebenarnya telah memahami hal tersebut namun baiklah aku akan menjawab bila maut mau mengambil seseorang dan sebaliknya. Mereka-mereka yang terlihat dan terjerat oleh wasana akan dijemput Sang Maut, dan yang bebas dari wasana tidak akan disentuh oleh maut. Karena yang tercemar oleh nafsu, kemarahan, keserakahan, keterikatan, kekhawatiran, hasrat, ketakutan, ego, dsb. harus mati. Sebaliknya yang lepas bebas dari unsur-unsur tersebut tidak tersentuh oleh kematian. Chitta yang murni yang berkontemplasi ke Sang Atman (Atma-chintan) adalah obat manjur bagi semua bentuk penyakit. Semua unsur penghalang, berbagai faham-faham pemikiran hilang diobati oleh Atma-Chintan. Kudapat Atma-Chintan ini melalui pengendalian pranaku dan aku memahaminya dengan baik sekali”.

Lalu kutanyakan apakah kendali prana tersebut dan bagaimana melaksanakannya.

Resi Bushunda menjawab, “Kendali prana sangat bermanfaat dan adalah rahasia kehidupanku. Teknik pranayama ini menghasilkan shanti baik bagi seseorang yang masih terlibat dengan karma-karmanya atau sudah menanggalkan karma-karma tersebut. Wahai Munishwar, prana yang bangkit dari sektor hridaya naik ke atas sampai 12 digit dan tinggal di titik tersebut. Ia kembali sebagai prana dan tinggal di hridaya. Prana terpancar ke luar ke akash ibarat api yang panas. Ia menjadi dingin sewaktu kembali ke hridaya akash, ia disebut apana-wayu dan sedingin rembulan, sewaktu keluar ia sepanas mentari. Prana-wayu memanaskan hridaya akash, membakar makanan dan memfasilitasi pencernaan. Apana-wayu mendinginkan hridaya ibarat rembulan. Sang pikiran yang stabil di dalam tahap di mana apana rembulan dan apana mentari bersatu, tidak akan kembali ke penderitaan, juga tidak mengalami kelahiran. Dalam tahap ini kedua prana ini melebur menjadi satu, seseorang yang terserap di dalam tahap ini akan bersifat awas, jauh dari penderitaan, dan mencapai tahap yang agung dan mulia. Wahai Munishwar, kegelapan di dalam (batin) menghilang setelah memahami proses prana-apana ini. Sewaktu prana-mentari yang timbul di hridaya keluar, ia lalu menyatu secara langsung dengan apana rembulan dan hadir sebagai apana rembulan. Demikian juga sebaliknya, apana rembulan yang menyatu dengan prana mentari di hridaya hadir sebagai prana mentari. Dengan kata lain sewaktu prana turun maka apana naik, sewaktu prana naik maka apana turun. Sewaktu prana naik dari hridaya, ia disebut rechaka (nafas keluar/prana) dan sebaliknya disebut puraka (nafas masuk/apana). Sewaktu prana dipusatkan ke apana, maka hal ini disebut kumbhaka (menahan nafas di kepala atau dada). Sewaktu seseorang stabil di dalam tahap kumbhaka, ia lepas dari berbagai penderitaan. Demikian juga rechaka/apana diikuti oleh puraka/prana, sewaktu prana menyatu dengan apana, hadirlah dengan ini Kumbhaka dari prana. Seseorang menjadi bebas dari penderitaan sewaktu stabil di dalam Kumbhaka. Wahai Munishwar, sewaktu seseorang mencapai stabilitas yang teguh di dalam kedamaian Atma-tattwa, dan tegar di dalam prana dan apana, maka sang pikiranpun menjadi tenang. Atma-satta, sang saksi menjadikan seseorang jauh dari penderitaan, melalui upaya pranayama ini. Wahai Munishwar aku berbakti kepada Atma-tattwa yang bukan prana maupun apana. Aku selalu memusatkan diriku ke arah Kesadaran Chidatma yang terletak diantara prana dan apana, yaitu sewaktu prana menyatu dengan apana, dan apana menyatu dengan prana, dan itulah sebabnya aku selalu damai dan mencapai samadhi dan stabil di dalam tahap Atmik, tanpa melupakan Sang Atman sesaatpun, itulah rahasia hidupku yang lama ini. Aku senantiasa berimbang bahkan sewaktu aku sadar, bermimpi dan tidur lelap, tanpa rasa takut dan khawatir, aku senantiasa terpusat ke tahap samadhi Atmik. Pada saat ini aku telah sedemikian jauh dengan upaya prana-apana ini sehingga tidak memerlukan upaya lagi, karena apana dan prana mengalir secara langsung dan aku selalu damai. Aku tidak menyusahkan seseorang dan sebaliknya tidak ada yang menyusahkanku. Egoku telah hilang melalui upaya pranayama ini. Ramji, kisah ini mengandung makna yang amat dalam, seandainya dikau berupaya secara tegar maka dikau akan mencapai kebahagiaan Yang Maha Kuasa ini.

“Prabu, sewaktu dikau bercerita di atas tersebut, dikau menyebut-nyebut raga yang terdiri dari daging, darah dan tulang-belulang ini. Prabu, siapakah yang menciptakan tubuh ini, dari mana asalnya, bagaimana ia eksis dan siapakah yang hadir di dalamnya?” Resi Vasistha Bertanya.

Dan Resi Bushunda pun menjawab, “Ramji, tulang-belulang adalah kerangka rumah ini, yaitu sang raga ini...... yang memiliki sembilan pintu gerbang. Raga ini tidak diciptakan oleh siapapun, namun adalah bayang-bayang atau pantulan dan diterima sesuai dengan ilusi. Raga ini terkesan nyata selama kebodohan hadir, sewaktu gyana hadir maka kesan memiliki tubuh ini akan sirna, ibarat seseorang yang terjaga dari mimpinya. Sewaktu seseorang menyadari, Aku adalah kesadaran dan bukan raga, dan kesadaran tersebut adalah abadi , maka ia lepas-bebas dari berbagai penderitaan”

Demikian kisah dikutip dari terjemahan kitab Vasistha Yoga.

No comments:

>>>

-



-