03 April 2010

Melepas Belenggu Keterikatan



Terinspirasi buku Kehidupan, panduan untuk meniti jalan kedalam diri karya Bapak Anand krishna, aku menulis. Tulisan yang kutujukan kepada nuraniku yang selama ini terkungkung terpenjara di sudut hatiku.
Karena dosa, karena kebodohan, karena keterikatan dan ketidaksadaran yang selama ini menyelimuti jiwamu, membelenggu sukmamu. Dan pemenuhan segala keinginan ragawi dan obsesi-obsesi yang kau anggap utama dan paling penting bagi hidupmu ternyata tidak mampu membebaskan kamu dari penderitaan. Segala sesuatu yang selama ini kau anggap kebenaran ternyata tidak mampu membebaskan kamu, kau masih saja terikat, dalam kebodohan dan ketidaksadaran, semuanya menarikmu lagi kedunia fana, ke alam samsara, kau mesti terlahir lagi dalam alam manusia….
Sekian banyak keinginan, sekian banyak obsesi yang belum kesampaian di kehidupan masa lalumu, mesti harus terjadi di kehidupan ini, mengulang dan mengulang terus pelajaran yang sama hingga tuntas, mengulang dan mengulas pusaka-pusaka kehidupan, mengejar ketenaran, mencari kenyamanan, kepahlawanan, cinta dan berbagai bentuk ekspresi kepemlikan, keakuan, mesti harus dirasakan oleh sang jiwa di alam mayapada ini. Demi meraih kebenaran yang nyata dari sang diri. Segala pengalaman mesti di jalani dan dialami. Diulang dan diulas terus sampai bosan, sampai titik jenuh! Tapi sampai kapan? Kapan kau akan bisa bosan? Kapan kau akan jenuh dengan kehidupan? Kapan roda cakra manggilingan, lingkaran kelahiran dan kematian akan terhenti! Dan kamu akan kembali bersatu dengan sumbermu, kebahagiaan kekal abadi, dengan kesadaran murni, bersatu dengan Param Brahman, sang kasunyatan abadi yang berada dalam dirimu. Yang sekaligus yang menaungi semesta ini…
Aku merasakan niatan yang tulus dan mendalam dari nuranimu, dari kedalaman jiwamu untuk perubahan itu tetap ada, keinginanmu untuk memperoleh ketenangan dan keheningan abadi selalu menyala meski redup. Sekian banyak penderitaan yang kau alami mengantarkanmu hingga kesini! Maka berterimakasihlah pada mereka!
Masih ingatkah kau dengan kebulatan tekadmu di masa lalu, bahwa dalam kehidupanmu kali ini, dalam kelahiranmu kali ini, kamu berjanji akan berusaha keras untuk kembali lagi pada kebenaran, kepada jati dirimu yang sejati. Meskipun di waktu itu kau tahu dan sadar bahwa berupaya menyatu kepada kebeneran, kepada kesadaran murni, ketika sang sukma memiliki tubuh fisik amatlah sulit, berbagai hijab dan illusi duniawi akan menutupi kejernihan pandanganmu. Tapi kau telah berjanji, dan kau harus menepatinya….
Sekian banyak masa kehidupan terlewati, sekian banyak pengalaman kau alami, sekian banyak peran kau lakoni. Namun sampai saat ini kau masih tetap jalan di tempat! Lalu sampai kapan? Kini atas usahamu yang gigih tinggal beberapa mata pelajaran saja yng mesti kau ulang… dan keberadaan telah membantumu dengan sepenuh hati!
Coba lihat, coba rasakan dan renungkan dengan kejernihan hatimu yang mendalam! Bagaimana dengan kehidupanmu saat ini, dengan kesadaranmu saat ini! Bukankah segalanya begitu pas, segalanya sangat mendukung bagi perkembangan kesadaranmu! Pelajaran apa lagi yang mesti kau minta… segala sesuatu yang selama ini kau anggap kesialan, kekurangan dan penderitaan ada karena permintaanmu di masa lalu, maka berterimakasihlah pada peran mereka! Karena cambuk kesialan, pusaka kekurangan dan ciuman penderitaan begitu setia menjaga kesadaranmu! Mereka tidak menginginkanmu lengah, mereka menginginkanmu selalu terjaga.
Lalu mengapa masih terus mengerutu! Wahai sahabatku, wahai cintaku, kekasihku, bangunlah, terjagalah… bebaskan dirimu dari belenggu dan rantai yang selama ini mengikat kedua kaki dan tanganmu. Mari menari …, mari menyanyi…
Tarikan tarian-tarian keindahan, selaraskan energimu dengan tarian alam, selaraskan dengan getaran sang angin, rasakan kelembutannya, rasakan… semakin dalam,dan semakin dalam… dan kau akan kau akan merasakan seluruh isi alam raya akan menari bersamamu! Menyanyilah, menyanyilah, nyanyikan kidung-kidung kerinduan akan kehadirannya, kehadiran sang kekasih abadi… rasakan kedatangannya dan sambut dengan segenap cinta yang kau punya, sambut dia, peluk dia, rasakan keindahan, kelembutannya, kedamaiannya… rasakan…. Begitu lembut….
Rasakan kedamaian-Nya, Kesejukan-Nya disaat ini juga! Sekian lama kau menunggu, sekian lama kau menanti, saat-saat ini, saat yang begitu singkat dalam penantian panjangmu selama ini..
Wahai sahabatku, wahai kekasihku, mengapa kita mesti menunggu lama untuk sebuah kebebasan yang sebenarnya telah melekat dalam kebenaran diri kita. Ia ada dalam hati kita, selama ini kita telah lalai menyapa-Nya. Kita terlalu sibuk mengejar-Nya yang berada di luar diri. Hingga kotoran-kotoran dan selaput illusi luaran menutupi pandangan kita. Karena pandangan kita yang selalu focus pada kejauhan, kepada kebenaran luaran kita melupakan jati diri kita.
Keberadaan kita, perjumpaan kita di dunia ini begitu singkat, mengapa harus selalu kita sia-siakan. Kesempatan memang akan selalu ada, tapi pelajaran yang mesti kita ulang akan bertambah sulit. Sampai kapan kau akan terpaku pada kubang yana sama! Kemerdekaan ini, kebebasan ini mesti kita raih saat ini juga, manfaatkan kebaikan keberadaan dengan sebaik-baiknya.
Kebebasan, nirvana, moksa mesti dapat kita raih saat ini, saat sukma ini masih berada dalam raga. Raga boleh saja sakit, raga boleh saja lapar dan kelelahan. Ya karena ia mesti menuruti aturan kodrat, tubuh mesri mengalami perubahan, lapar, sakit dan mati. Dan suksma juga mesti berubah dari tidur pulas dalam ketidaksadaran dan terbangun dan selalu terjaga dalam kebenaran dirinya. Dalam kebahagiaan kekal abadi, dalam kesadaran murni.
Terima kasih guru, semua ini berkat berkahmu, kasihmu senantiasa menerangi setiap langkahku. Terimakasih.   

Ditulis oleh Sigit Suryono.

No comments:

>>>

-



-