17 December 2010

Sebuah Renungan Tentang Diri

Di tulis sekedar sebagai olah eksplorasi diri.
Tidak ada kepastian dalam hidup, yang ada hanyalah ketidakpastian yang sedang melukiskan dirinya. Obyek yang terlihat dan subyek yang melihat, keduanya sedang mengarah kearah keketidakpastian. Harapan dan kenyataan sering bertolak belakang, walau sesekali keduanya tampak beriringan. Mereka sedang bertikai memperebutkan identitas. Sebuah peperangan dan pergulatan bathin yang selalu terjadi sepanjang waktu yang tidak mungkin di menangkan. Maka menjadi seorang pelaku yang terlalu berharap banyak kepada hasil bukanlah sebuah ide yang tepat. Hal itu justru semakin menjauhkan diri dari alur realita yang sebenarnya. Dari kebenaran yang sesungguhnya yang tersirat.
Tetapi ketika kita mengalihkan pemahaman bahwa sesungguhnya diri sedang menjadi saksi sebuah moment penciptaan. Maka semua ketidakpastian yang hadir akan luluh dalam cahaya pengetahuan sejati. Sebuah pemahaman yang menyibakkan berbagai sekat kepalsuan yang menutupi kebenaran diri.
Hadir dan menjadi saksi, dalam setiap tindakan adalah langkah terindah. Mempersembahkan segenap kesadaran pada setiap perubahan, dan menjadikannya sebagai sebuah kekayaan bathin untuk selalu sadar akan wujud jatidiri adalah langkah awal dalam persembahan. Menjadikan hidup sebagai sebuah persembahan kepada nilai-nilai diri yang agung. Sebuah wujud karunia illahiyah yang bersemayam dalam relung terdalam pada setiap anak-anak kehidupan.
Tidak ada kekotoran, yang ada hanya sebuah penjernihan. Sebuah proses yang mesti terjadi pada setiap pelaku kehidupan. Kita adalah anak-anak kesadaran yang sedang berproses menyadari dirinya. Proses yang tidak bisa diwakilkan, proses yang mesti dialami sendiri, ditempuh sendiri. Siapapun tidak bisa membantu kita. Hanya tekad yang kuat, tekad yang bulat yang lahir dari diri sendiri yang mampu menggerakkan setiap langkah.
Ada kalanya kita sering tertatih-tatih dan babak belur sebelum proses penyadaran itu terjadi, terjungal dan terjerembab pada konflik-konflik yang sama sepanjang masa kehidupan.
Keresahan kegelisahan hadir sebagai tanda, sebagai sebuah tanda bahwa jiwa sedang hadir dan bersemayam dalam tubuh, tubuh fisik yang sedang mengalami proses menuju kematian, menuju ketiadaan.
Rasa gelisah mewakili berbagai bentuk ketidaksadaran yang lahir dari jiwa yang berada di luar lingkaran kebenaran dirinya. Ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang hadir adalah sebagai tanda bahwa jiwa berada didalam lingkaran kebenaran akan jati dirinya. Sebuah rasa yang mewakili bentuk kesadaran jiwa akan adanya potensi illahiyah, sebuah keadaan bahwa jiwa adalah kekal dan abadi adanya. Lalu apa kaitannya antara kegelisahan, maupun rasa bahagia dengan keadaan jiwa?
Ketika seseorang sedang gelisah dan dipenuhi rasa takut, sesungguhnya ia sedang berada di luar inti dirinya. Ia sedang mengalami proses penjernihan, ia sedang mengalami proses pembersihan, proses penyeimbangan bathin.
Dan ketika seseorang berada dalam lingkaran kebenaran akan jatidirinya. Ia akan melihat kedamaian dan rasa bahagia sebagai identitas asli jiwanya. Ia akan menikmati kasunyatan. Menikmati sebuah kelegaan yang menghadirkan rasa bahagia, karena ia telah melihat kebenaran. Bahwa jiwa sesungguhnya abadi dan tak pernah terkotori.
Kegelisahan lahir dari ketidaktahuan, kebahagiaan lahir dari pengetahuan, pengetahuan sejati tentang hakekat diri. Kebahagiaan itulah sesungguhnya kebenaran yang  menjadi hak milik hakiki bagi setiap anak-anak kehidupan. Demikian semoga setiap makluk berbahagia, dengan menyadari dirinya. Demikian sebatas pemahaman kami saat ini.
Terimakasih Sadguru, Jaya Guru Deva.

No comments:

>>>

-



-