28 February 2010

Memulai Perjalanan Bersama Kasih Sang Murshid




Seorang pemuda lajang yang sudah terlampau jauh terperosok dalam ilusi maya duniawi, mulai mencoba membuka dan merenungi diri. Apa yang bergelayut didalam benaknya mulai tak dapat ditahan. Dengan bekal pengetahuanya yang minim tentang menulis ia mencoba menuangkan pemikirannya dalam tulisan.
Mungkin selama ini terlalu sering ia terpasung dalam perangkap-perangkap keinginan inderawi dan berbagai obsesi duniawi yang belum terpenuhi, yang selalu mencoba mengaburkan kesadarannya. Wajar dan bisa dipahami sebagai seorang remaja yang telah tumbuh dewasa yang kurang asam-garam kehidupan tapi berharap dapat hidup nyaman dan berkelimpahan. Dengan segumpal kegelisahan dan kekhawatiran akan semakin bertambahnya usia.Opini dan penilaian masyarakat tentang kesendirianya membuatnya sedikit gundah.
 

Terasa begitu banyak pengalaman pahit getirnya hidup yang telah dilaluinya, Hidup yang kurang nyaman, kemiskinan, penderitaan, sakit hati, dan keputus-asaan, menghantarkanya untuk mulai instropeksi diri. Hingga ia memutuskan untuk lebih memilih menekuni jalan spiritual. Atau mungkin akibat karma di masa lampau hingga di paksa oleh keberadaan untuk mengalami hal-hal seperti itu. Terlihat pula dia sering menangis meratapi nasip, dan bertanya pada dirinya, apa salahku? Mengapa aku mesti lahir kedunia hanya untuk sesuatu seperti ini? Tidak adakah sesuatu yang lain yang lebih baik dari semua ini? Hingga akhirnya terjadilah konflik bathin yang hebat dalam diri si pemuda.
 

Pertanyaan-pertanyaan hakiki tentang kehidupan mulai hinggap di kepalanya. Siapakah aku? Dari mana aku berasal? Dan mengapa aku ada di sini? mulai menyita perhatiannya. Memangkas jam tidurnya.
 

Hingga akhirnya perjalanan pencarian jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebutpun di mulai. Ia pun mulai melalui lorong waktu dengan selusin pertanyaan yang menjejal di kepalanya.Tak terasa waktu telah membawanya bertemu banyak orang, banyak guru dan peristiwa, mulai dari tokoh agama dengan sederet tafsirnya sampai dukun klenik yang masih asyik bergelut dengan alam bawah sadar. Namun itu semua tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Pencarian itu tidak membuahkan apa-apa, justru kejenuhan yang sering ia alami. Tapi pencarian itu tidak berhenti di situ.
 

Karena hasrat dan obsesinya begitu kuat akhirnya ia menemukan titik terang dari apa yang dicarinya selama ini. Di latar belakangi dari pengetahuan yang ia peroleh dari semenjak kecil, dan kegemarannya dalam membaca ia memiliki pemahaman dan pendapat yang sedikit berbeda dari khalayak, membuatnya sering berdebat dalam hal mempertahankan pendapat dan sesuatu yang di yakininya benar. Maka dalam berguru pun ia akan tolok ukur. Bila tidak sesuai tolok ukur yang diharapkan pasti ia akan cepat meninggalkannya dan mencari guru lain yang dianggapnya lebih bijaksana.
 

Berbagai tehnik pemasrahan diri, dari menyepi seorang diri di pinggir kali malam hari sampai berkerumun bersama mengkaji kitab suci pernah ia lakoni. Dahulu sering ia berpuasa menyiksa diri, berkontemplasi sepanjang hari, sampai tak terasa tubuhnya yang kurus pun tambah ceking. Sampai akhirnya ia dibimbing oleh teman-teman para seeker yang lebih dulu mengenal meditasi. kadang juga share bersama teman seperjalanan, memang sih ada sesuatu yang terasa lain, tapi semua itu belum memberikan perubahan yang berarti. Ia pun banyak mendalami buku spiritual dari berbagai tradisi keagamaan dan filsafat. Tak lupa sains dan manajemen modern yang berhubungan dengan cara berpikir manusia pun banyak dilahabnya.
 

Kesukaannya itu membawanya pada sebuah buku dan mengantarkannya pada seorang guru. Seseorang yang yang mampu menjawab setiap pertanyaannya. Dan akhirnya keberadaanpun mempertemukannya dengan seorang master yang tercerahkan. Selama berjalan bersama dan mendalami ajaran sang guru. Dan ia pun memperoleh darshan. Dan mulai belajar banyak dari teman-teman seperjalanannya.
 

Tapi ternyata kawah Candradimuka bikinan sang guru pun belum mampu membakarnya dalam api cinta, jiwanya masih membeku dalam lamunan duniawi. Ia masih begitu gelisah. Ia belum sepenuhnya terjaga, pemicu-pemicu negative dari luar masih sering menikamnya. Kepribadian sang remaja masih kaku, keras, alot jiwanya belum menjadi lembut, kesadarannya masih terombang-ambing antara yang ilusi dan yang illahi. Walau telah belajar lama namun perilaku dan ucapanya belum mencerminkan sikap seorang spiritualis. Hasrat seksual yang masih membara, keinginan berdampingan dengan wanita cantik dan obsesi hidup nyaman berkelimpahan harta masih asyik bersarang dalam pikirannya. Terpendam rapi bagaikan ranjau, dan bom waktu yang siap meledak kapan saja hanya menunggu pemicu dari luar saja. Kesadaran diri sang pemuda dalam masa uji coba. Ternyata ia belum siap berbhakti. Tak lama kemudian Ia pun meninggalkan semuanya… meninggalkan sang guru, ashram dan segala aktivitasnya.
 

Kasih dari sang guru begitu besar, kehadirannya yang telah ia tunggu lama selama ini nampaknya telah ia sia-siakan. Kesempatan dan pertemuan dengan sang guru baru sebatas curious, ingin tahu saja. Belum ada pemasrahan total kepada kehendak sang guru. Padahal pertemuan seperti ini sangat sulit didapat. Memerlukan modal kebaikan beberapa masa kehidupan untuk mendapatkannya.
 

Ternyata apa yang diperolehnya selama ini baru menginjak tataran penguasaan pengetahuan, memenuhi kebutuhan otak dan hanya menambah wawasan saja. Semua itu hanya membuatnya pandai berbicara, berdebat dan menggurui temannya saja. Kualitas jiwanya belum berkembang.Meski ia tahu pengetahuan tentang hakekat pribadi atau pengetahuan sejati merupakan inti dari segala ilmu pengetahuan di dunia ini, dan membutuhkan waktu sepanjang hidup untuk mendapatkan dan memahaminya. Dan semuanya itu tidak akan berguna jika tidak bisa menghadirkan elemen cinta dan menumbuhkan kasih didalam diri.
 

Meski begitu pemahaman tentang yang fana dan yang baqa`, yang illusi dan yang illahi telah kental di dalam pengetahuan sang pemuda. Pertemuan dan wejangan dari sang guru telah menyalakan api kesadarannya. Walau nyala api itu kini masih kecil dan redup mungkin belum mencukupi untuk menerangi relung hatinya. Namun sang pemuda yakin akan kebenaran wejangan sang master, bahwa dalam penderitaan yang bertubi-tubi wajah Tuhan akan terlihat nyata dan lebih jelas dipahami, dan setelah sekian kali sang pemuda terpeleset, terjerembab dan babak belur dalam lubang dan kubang yang sama. Harusnya menjadikannya lebih terlatih dalam menapaki gurun kehidupan dan lihai dalam memanjat tebing harapan, semoga.
 

Dengan petunjuk dan kasih dari sang murshid ia mencoba berjalan, menjalani dan meniti kehidupan dalam sisa-sisa umurnya yang terbatas. Melarutkan kesadarannya dalam kasih sang murshid. Dan ia menyadari hanya kepasrahan total kepada kehendak Murshid, Ia yang terjaga, perwujudan Tuhan di dunia ini sajalah yang mampu mengubah api redup menjadi obor kedamaian yang mampu membakar apapun yang di laluinya menjadi cinta, menjadi kasih. Dengan demikian maka semestapun akan menghampirinya dan mengguyurinya dengan hujan rahmat.
 

Menyadari hal itu sang pemuda berjanji dalam dirinya untuk senantiasa menundukkan kepala dan melepas egonya di hadapan sang guru, kekasih abadinya.
Terima kasih guru, semoga cahaya illahi yang menerangi jiwa-Mu, menerangi pula jiwaku juga jiwa mereka yang senantiasa mencintaimu.

No comments:

>>>

-



-