29 July 2010

Renungan Tentang Jatidiri Dalam Kisah Sang Setyawan Pada Relief Candi Penataran


Oleh : Triwidodo Djokorahardjo. 

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Kisah pada Relief Candi Penataran. Salah satu kisah menceritakan tentang Sang Setyawan. Mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku pengetahuan tentang kesadaran karya Bapak Anand Krishna. Diantaranya buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Sang Suami:
Ada penduduk Kahyangan bernama Sang Setyawan. Setyawan berarti orang sangat setia. Dia sangat patuh dan setia dengan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Bagi dia tidak ada pekerjaan yang dipandang hina..... Tersebutlah suatu kerajaan yang bernama Puspa tan Alum dengan seorang raja yang bernama Jayati yang tinggal di istana Kerta Nirmala. Puspa tan Alum berarti tempat bunga yang tidak pernah layu selamanya. Jayati berarti selalu menang dan Kerta Nirmala berarti Kota tanpa penyakit, tanpa kejahatan. Demikianlah kerajaan tersebut tanpa kejahatan, selalu memberikan kesejahteraan dan kebenaran selau dimenangkan. Pada suatu ketika Sang Setyawan datang di kerajaan yang mulia tersebut dan sang raja sangat berkenan. Setelah beberapa lama, sang raja menjodohkan Sang Srtyawan dengan Suwistri, putrinya. Suwistri berarti istri yang baik, pasangan yang baik tingkah lakunya...... Setelah hidup bersama beberapa lama dalam keadaan bahagia, Sang Setyawan meninggalkan istrinya untuk pergi bertapa. Suwistri bersama pelayan setianya bernama Sucita mencari suaminya ke hutan belantara. Sucita berarti pikiran yang baik tanpa cela. Melihat istrinya datang dari kejauhan, maka Sang Setyawan mengubah wujudnya sebagai ular dan harimau untuk menakut-nakutinya. Tetapi Suwistri bersama Sucita tidak takut dan tetap melanjutkan perjalanannya. Kemudian beberapa pertapa muda yang sedang bekerja menggodanya dan bahkan berkelahi sesamanya, akan tetapi tidak mengubah niat Suwistri bersama Sucita untuk meneruskan perjalanannya. Sang Setyawan kemudian menciptakan sebuah pertapaan yang indah sekali. Sang Styawan mengganti nama dan wujudnya menjadi Cilimurti. Cilimurti berarti Yang Berkuasa. Suwistri kemudian diterima sebagai seorang pertapa dan diberi pengetahuan tentang kebiaraan. Akhirnya Suwustri selesai mengikuti pelajaran tentang kebiaraan. Suwistri akhirnya menjadi satu dengan Cilimurti yang ternyata adalah Sang Hyang Wenang. Dia Yang Memiliki Kewenangan Kehidupan....... Tersebutlah orang tua Suwistri, Raja Jayati bersama istrinya Dewayani pergi mencari jejak putrinya yang sedang berupaya menemukan keberadaan suaminya. Dewayani berarti seorang manusia wanita yang suci tabiatnya. Mereka kemudian mengetahui bahwa putrinya telah bersatu dengan Sang Hyang Wenang. Mereka kemudian mengikuti jejak putrinya menjadi pertapa. Atas perintah Sang Hyang Wenang mereka diperintahkan untuk menuju Gunung Meru, Raja Jayati berada di bagian Timur sedangkan Dewayani di bagian Barat.

Sang Istri:
Para leluhur mempunyai ungkapan” jagat gumelar” dan “jagat gumulung” yang penuh makna. Jagat gumelar adalah dunia yang digelar yang berkembang. Jagat gumelar tidak pernah statis tetapi selalu berubah sesuai perkembangan zaman sesuai dengan perubahan waktu dan ruang. Sedangkan jagat gumulung berarti segala sesuatu yang tergelar tersebut digulung dikecilkan sehingga semuanya menjadi berada diri kita. Sesungguhnya jagat gumelar dan jagat gumulung adalah jagat yang sama. Seseorang yang telah memahami jagat gumulung akan memahami jagat gumelar juga. Seseorang yang memahami pola-pola yang berlaku bagi jagat yang gumelar akan memahami pusat aturan yang berada di dalam dirinya. Kisah Sang Setyawan dapat direnungkan sebagai kisah yang berada dalam diri kita. Kerajaan yang dimaksud adalah diri manusia. Dalam diri yang selalu berbuat kebaikan, akan datang sinar keilahian yang membimbing menuju Ilahi. Kembali pulang, Manunggaling Kawula Gusti.

Sang Suami:
Benar isteriku, dalam buku “Five Steps” disampaikan kisah seorang pertapa dengan putranya yang bernama Shvetaketu. Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu. Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu. Dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh. Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau!” Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya. Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi Intinya satu dan sama, tanah liat. Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda. Walau berbenda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama atau sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, tanah liat”. Untuk memahaminya, pelajarilah dirimu. Shvetaketu, gumpalan tanah liat itu adalah dirimu. Tat Tvam Asi itulah kau. Dengan mempelajari diri yang berbeda dalam jangkauanmu, kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu!”

Sang Istri:
Dalam kisah tersebut dijelaskan pentingnya bertapa. Dalam buku “Bodhidharma” dijelaskan tentang makna tapa..... Tapa berarti “latihan-latihan untuk mengendalikan diri”. Jadi seorang Tapasvi atau “praktisi tapa” adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan kita. Menambah atau mengembangkan berarti kita masih “mengejar” sesuatu. Kita belum tenang, kita masih gelisah. Berarti kita belum ber-tapa. Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika kita tidak melakukannya secara teratur, kita belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa.

Sang Suami:
Suwistri, Raja Jayati dan permaisuri Dewayani melakukan perjalanan kembali ke dalam diri. Dalam buku “Bodhidharma” disampaikan bahwa para nabi, mesias dan avatar dibutuhkan oleh manusia yang masih “bayi”. Sekarang sudah tidak ada “manusia bayi” lagi. Sekarang sudah menjadi dewasa. Dan proses kematangan atau kedewasaannya ini disebut proses kebuddhaan. Bisa juga disebut proses “kekristusan”, atau proses apa saja—terserah kita. Karya Sri Shankara yang satu ini ditulis untuk para calon buddha. Ciri-ciri mereka pun dijelaskan. Pertama, dia sudah terbebaskan dari kegelisahan. Kedua, dia sudah menjadi tenang..... Ketiga, tidak menagih sesuatu, tanpa craving. Keempat, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan.

Sang Istri:
Moksha bukanlah sesuatu yang terjadi pada saat kematian atau setelah kematian. Moksha harus terjadi sekarang dan saat ini juga. Pada saat kematian, mau tidak mau roh harus meninggalkan badan. Dia kena gusur. Bagi dia tidak ada pilihan lain, kecuali meninggalkan badan. Itu bukan moksha. Kita masih hidup, masih memiliki badan, tetapi tidak terikat dengan badan—itulah moksha. Dan, tidak terikat dengan badan berarti tidak terikat dengan segala macam hubungan yang ada karena badan. Kita mencintai anggota keluarga, bukan karena mereka anak kita atau pasangan kita atau orang tua kita atau saudara kita, tetapi karena mereka juga berasal dari Sumber Ilahi yang sama. Kita semua adalah saudara kandung. Kesadaran seperti ini akan membebaskan kita dari permusuhan dan pertikaian. Inilah moksha. Demikian uraian dalam buku “Atma Bodha”.

Sang Suami:
Menjadi diri sendiri itu moksha. Jangan menganggap diri kita rendah, jangan menganggap diri kita tinggi. Just be yourself. Jadilah dirimu. Itu saja. Tidak perlu meniru orang. Dan “menjadi diri sendiri” itulah moksha—kebebasan! Kesadaran diri atau “menjadi diri sendiri” merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Yang menyadari dirinya akan menjadi bebas. Yang bebas akan menyadari dirinya..... Dalam ayat ini, Shri Shankara sedang berupaya untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya kita bukan budak. Sesungguhnya tidak ada rantai yang mengikat kaki dan tangan kita. Tidak ada yang membelenggu kita. Bahwasanya kita sedang mengada-ada. Sadarlah!

Sang Istri:
Suwistri tidak takut dalam perjalanan menuju Sang Gusti. Cinta berasal dari hati nurani. Dan cinta tidak pernah takut. Demi cinta, seseorang bisa melakukan apa saja. Bisa membunuh dan bisa terbunuh. Seorang penguasa bisa meninggalkan kekuasaannya. Seorang raja bisa melepaskan kerajaannya. Itu baru cinta. Cinta terhadap seseorang. Apalagi Kasih! Kasih yang berasal dari lapisan nurani yang terdalam, terbawah, lebih berani lagi. Jika kita sudah mulai kontak dengan suara hati nurani bila kita mulai mendengarkan suara hati nurani, penemuan jati diri tinggal tunggu hari saja. Bisikannya saja sudah cukup untuk membebaskan kita dari rasa takut. Sebaliknya, tidak adanya kontak dengan hati nurani membuat kita tidak mengenali diri sendiri.......

Sang Suami:
Kegiatan tidak dapat membebaskan diri dari ketidaktahuan, karena kegiatan tidak bertentangan dengan ketidaktahuan. Hanya Kesadaran Diri yang dapat melenyapkan ketidaktahuan, sebagaimana cahaya bisa melenyapkan kegelapan. Shankara tidak bicara tentang baik dan buruk. Dia sedang bicara tentang kesadaran. Dia sedang bicara tentang perbudakan dan pembebasan. Dan untuk itu, karma baik apa pun yang kita lakukan tidak akan membantu.... Perbuatan dan ucapan berasal dari pikiran. Dan pikiran berarti dualitas. Proses pemikiran itu sendiri sudah membuktikan bahwa “ada yang sedang terjadi” dan “ada yang sedang dipikirkan”. Taruhlah, yang sedang terjadi dan sedang dipikirkan adalah hal yang sama. Tetap saja, ada “yang memikirkan” dan ada “yang dipikirkan”. Berarti sifat dasar pikiran adalah dualitas. Lalu, jika pikiran yang bersifat dualitas itu diterjemahkan dalam bentuk perbuatan atau ucapan, sifat dasarnya tidak akan menghilang. Demikian disampaikan dalam buku “Atmabodha”.

Sang Istri:
Jati diri tidak akan ditemukan selama ada ketidaktahuan, ketidaksadaran. Sedikit saja ketidaktahuan, sedikit saja ketidaksadaran, maka jati diri kita tertutup. Kita harus menyelami jiwa Shankara untuk memahami maknanya. Apa yang dikatakan oleh Shankara sungguh luar biasa. Selama masih ada “sedikit” pun ketidaktahuan, “sedikit” pun ketidaksadaran, kita masih tidak akan menemukan jati diri. Dan, dengan lenyapnya “sedikit” ketidaktahuan, “sedikit” ketidaksadaran, kita akan langsung menemukan jati diri. Istilah “menemukan” pun sebenarnya tidak tepat, karena jati diri kita tidak pernah menghilang, dan hanya tertutup oleh awan gelap ketidaktahuan, ketidaksadaran. Sesungguhnya awan gelap itu pun tidak pernah berhasil “menutupi” matahari secara utuh. Cahayanya masih saja menerangi hidup kita. Demikian penjelasan tentang Jati diri dalam buku “Atmabodha”. Semoga kisah sang Setyawan mengingatkan kita untuk kembali kepada Jati diri. Gusti yang ada dalam semua makhluk dan ada di dalam diri.....

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

No comments:

>>>

-



-